Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Rencana Jalur Puncak 2

Jawa Barat Minta Pemerintah Kebut Pembangunan Puncak II

Kepadatan ribuan kendaraan roda empat menunggu dibukanya arah menuju Puncak di Bogor, 7 Februari 2016. Pintu keluar Tol Ciawi dan Jalan Raya Ciawi-Gadog antrean kendaraan sudah mengular sejak ditutupnya jalur menuju Puncak pada pukul 13:30 WIB. TEMPO/Lazyra Amadea Hidayat

TEMPO.CO, BANDUNG -Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Karniwa mengungkapkan tengah menyiapkan usulan pada pemerintah pusat untuk mempercepat pengerjaan jalan alternatif Puncak II dari Sentul menuju Cipanas. “Prosesnya lambat, kita coba dorong supaya ini menjadi prioritas,” kata dia di Bandung, Selasa, 8 Maret 2016.

Iwa mengatakan, permintaan agar pembangunan jalan alternatif itu diterima pemerintah provinsi dari Polda Jawa Barat. “Hampir setiap pekan terjadi kemacetan luar biasa. Oleh karen itu menjadi urgent jalan non-tol Puncak II dari Sentul ke Cipanas,” kata dia.

Menurut Iwa, jalan alternatif Puncak II dibutuhkan untuk melengkapi pembangunan jalan tol Bogor-Ciawi-Sukabumi atau Bocimi. Jalan tol itu tidak melewati Cianjur sehingga, jalan Puncak II itu menjadi alternatif akses dari Cianjur menuju Bogor.

Iwa mengaku, Dinas Bina Marga sudah diminta untuk mempelajari pengerjaan jalan alternatif Puncak II itu untuk mengirim usulan percepatan pembangunan jalan itu pada pemerintah pusat. “Kita akan coba usulkan di 2017,” kata dia.

Menurut Iwa, lahan akses jalan itu mayoritas sudah tersedia kendati ada beberapa ruas yang belum tuntas pembebasannya. Lahan jalan alternatif Puncak II itu sebagian dibiayai pemerintah provinsi, sementara pembangunan fisik jalannya oleh pemerintah pusat.

Sebelumnya, Kepala Dinas Bina Marga Jawa Barat Guntoro mengatakan, pengerjaan jalan alterantif Puncak II masih dikerjakan. “Ada pergerakan, masih jalan terus,” kata dia di Bandung, 22 Februari 2016.

Guntoro mengatakan, pemerintah pusat masih mengucurkan anggaran membangun jalan itu pada 2015. “Tahun ini belum di cek,” kata dia.

Sejak setahun lalu pemerintah Jawa Barat meminta pemerintah pusat menyelesaikan pembangunan jalan alternatif Puncak II yang menghubungkan Sentul menuju Cipanas. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan kala itu mengaku, pembangunan jalan Puncak II tersendat karena kucuran anggarannya terbatas.

Jalan Raya Puncak II itu tengah merupakan proyek garapan Kementerian Pekerjaan Umum yang dibiayai APBN. Sebagian tanahnya berasal dari hibah Tommy Soeharto.

AHMAD FIKRI

Sumber m.tempo.com

Jalur Puncak II


CIBINONG – Pembangunan jalan Jalur Puncak II yang menghubungkan Sentul Kabupaten Bogor dengan Cipanas Kabupaten Cianjur dipastikan akan dilanjutkan pada 2016 mendatang. Sebab, tahun ini pemerintah kabupaten (pemkab) Bogor tidak mendapat kucuran anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Akibatnya, proyek senilai Rp Rp 759 miliar itu terhenti.Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Eko Syaiful Rohman mengatakan, jika terhentinya proyek itu sementara waktu lantaran adanya kendala teknis saat penganggaran.
Dia menjelaskan bila pihak yang menghibahkan tanah saat itu sedang berada di luar negeri. Sementara, proses penganggaran terlanjur diketuk.
“Makanya itu diusulkan untuk 2016. Dan insyaallah itu akan terlaksana,”kata Eko.
Bupati Bogor Nurhayanti membenarkan jika Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada 2015 ini tidak memberikan kucuran dana untuk pembangunan jalan sepanjang 48 kilometer. Sehingga pembangunan Jalur Puncak II ini dihentikan sementara waktu. “Tahun depan, kami akan meminta Kementrian PUPR agar jalur ini kembali dilanjutkan,”kata dia.
Menurutnya, proses pembangunan jalan Jalur Puncak II bukan hanya mengurai kemacetan akan tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Bogor dan Cianjur. “Ya tentu saja ini bisa membuka peluang investasi di kabupaten. Sehingga harus terus didorong,”tutupnya
Untuk diketahui, pembangunan Jalur Puncak II dibagi dalam tiga tahapan. Pertama, dibangun sepanjang 28 km dan lebar 30 meter mulai dari Babakanmadang-Sukamakmur-Jonggol. Tahap kedua, Sukamakmur-Cariu (Jalan Transyogi) dengan panjang 15 km dan terakhir yakni membangun jalur Sukamakmur hingga Cipanas sepanjang 10 km. (mam/b/feb)

sumber: http://www.metropolitan.id/2015/10/jalur-puncak-ii/

Lagi: Kavling Gardenia Luncurkan Tahap Berikutnya (tahap 1 Extension)


Lagi, Kavling Gardenia, kembali meluncurkan atau membuka penjualan untuk tahap berikutnya yaitu perluasan dari tahap 1, hal ini dilakukan karena banyaknya peminat yang tidak kebagian unit di tahap 1 dan 2.

Bukan cuma itu saja yang menjadikan alasan developer untuk kembali meluncurkan penjualan terbaru ini, karena selain itu juga para investor pemula juga sudah mulai melirik peluang investasi di jalur puncak dua, inilah yang membuat penjualan kavling gardenia terus meningkat.

Dibuka sebanyak 70 unit dan dengan harga 700rb/m2 untuk badan dan 750rb/m2 untuk hook tentunya masih terbilang cukup murah karena dengan harga demikian pembeli tidak perlu repot mengeluarkan biaya tambahan untuk pengurusan AJB dan lain-lain hingga ke SHM, karena semua sudah ditanggung oleh developer.

Ukuran yang ditawarkan pun beragam mulai 500m2 hingga 1000m2 tentunya bisa disesuaikan atau dipilih sesuai kebutuhan konsumen, tapi sayang tidak ada ukuran 350m2 di tahap ini seperti yang ada di tahap 2.

Melihat penjualan sebelumnya di tahap 1 dan 2, developer tentunya sangat yakin kalau tahap perluasan ini akan tetap laris karena harga yang tidak berbeda jauh dengan tahap sebelumnya, bahkan ada diskon khusus bagi mereka yang membeli dengan cash keras.


Siteplan tahap 3 (tahap 1 extension)

untuk mendapat informasi lebih jelas mengenai kavling gardenia ini bisa membuka situs resmi di www.kavling-gardenia.com atau menghubungi hotline service di 0811-177-911.

(ditulis oleh reno)

Pembangunan Jalur Puncak II Sudah Mendesak

INILAHCOM, Bogor - Pembangunan jalan Puncak II sebagai jalur alternatif menuju ke kawasan pariwisata Kabupaten Bogor mendesak untuk segera diselesaikan.

Jalur penghubung antara Kabupaten Bogor via Babakanmadang, Sukamakmur, Tanjungsari hingga ke Kota Bunga, Cipanas Cianjur itu menjadi penting mengingat kepadatan arus di Puncak makin kompleks.

"Pemkab Bogor harus memprioritaskan jalur Puncak II agar secepatnya bisa terealisasi. Kalau terlalu lama menggantung, jelas tidak menguntungkan. Selain berdampak terhadap industri pariwisata, juga secara sosial sangat merugikan warga di kawasan puncak," ujar Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Wawan Haikal Kurdi kepada INILAHCOM, Minggu (1/3/2015).

Menurut Haikal, dalam sidang paripurna untuk mendengarkan hasil reses para anggota dewan, Jumat (27/2/2015) lalu, dirinya memasukan usulan rekayasa lalu lintas jalur Puncak agar bisa menjadi acuan pengusulan ke eksekutif.

"Dari semua wilayah yang kami kunjungi dari reses kemarin, pembenahan jalur Puncak menduduki urutan pertama. Warga meminta pemerintah supaya mencari solusi konkret dalam mengatasi kemacetan di jalur Puncak," kata Wawan.

Masyarakat merasakan, kian hari jalur menuju ke Puncak mulai dari Ciawi hingga ke perkebunan Teh Gunung Mas mulai tak terkendali. Pada hari-hari tertentu seperti Sabtu-Minggu, dipastikan mengalamai kemacetan yang cukup parah. Sementara pemberlakukan buka tutup jalur oleh Polres Bogor dinilai kurang membantu.

"Ibarat penyakit, itu obat meredakan saja, setelah itu macet kembali terulang. Nah ini sudah semestinya segera dipecahkan masalahnya. Saya sangat berharap jalur Puncak II segera selesai," lanjut Haikal.

Sebelumnya Kementerian Pekerjaan Umum resmi mengambil alih proses pembebasan lahan jalur Puncak II yang selama ini ditangani Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Kepala Dinas Bina Marga Jabar M. Guntoro, ketika itu, mengatakan pengambil alihan tersebut dilakukan setelah Pemprov tidak lagi mampu menyediakan anggaran pada 2014. Pusat sendiri awal tahun ini, sudah mengucurkan anggaran sebesar Rp 25 miliar.

Guntoro mengatakan anggaran Rp 25 miliar cukup untuk melakukan pembukaan badan jalan sepanjang 12 kilometer. Proyek ini menurutnya sudah melalui fase sulit karena untuk segmen di wilayah Sentul sudah terbebaskan.

Menurutnya, posisi pembebasan lahan di jalur Puncak II bisa dikategorikan sudah makin mudah karena sejumlah alternatif di lokasi hingga menembus kawasan Cipanas, Cianjur. Adanya kawasan hutan lindung yang kemungkinan akan diterabas proyek ini pun menurutnya tidak ada persoalan.

Kawasan hutannya tidak begitu luas. Bersedia dipakai asal diganti dua kali lipat dengan luas yang sama, katanya.

Plt Bupati Bogor Nurhayanti saat menghadiri peresmian Tol Bocimi beberapa waktu lalu menyinggung bahwa pihaknya sedang berusaha keras merampungkan jalan Puncak II sepanjang 47 kilometer.

"Lahan yang dibebaskan untuk pembangunan jalan Puncak II merupakan hibah dari para pengusaha. Alhamdulillah pembebasan lahan sepanjang 5 kilometer sudah bisa kami atasi," jelasnya.

Yanti -begitu panggilan akrabnya- mengatakan, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan jalan Puncak II mencapai sebesar Rp 800 miliar. [hus]

sumber: http://www.inilahkoran.com/

Tahun Ini Sentul Makin "Naik Daun"... (Kavling Gardenia)

Pengembangan Sentul Menjadi Kota Mandiri - Proyek pembangunan properti di kawasan Sentul , Kabupaten Bogor, terus berlanjut, Minggu (16/12). Kawasan ini kini berkembang menjadi kota mandiri yang dilengkapi dengan pusat komersial, sarana umum, taman rekreasi dan bermain, serta gedung konvensi.

BOGOR, KOMPAS.com - Tanah dan rumah-rumah di kawasan Sentul, Bogor, mulai mengalami kenaikan mulai Januari 2015. Bisnis landed house di sini semakin potensial digarap pengembang.

Sebut saja kavling di Gardenia Sentul. Tanah seluas 6 hektar ini dibagi menjadi beberapa tahap penjualan. Tahap pertama, hingga saat ini telah terjual 135 kavling.

Pihak Gardenia Sentul sendiri telah membuka tahap kedua sebanyak 70 kavling dengan pilihan ukuran 350 meter persegi, 500 meter persegi dan 800 meter persegi. Harganya dibanderol 650 ribu per meter persegi. Harga tersebut hanya bertahan hingga Januari 2015.
Adapun tanah seluas 24 hektar di Jalan Alternatif Sentul harganya kini telah mencapai Rp 1,7 juta per meter persegi. Sementara itu, untuk rumah di kawasan Sentul City yang memiliki empat kamar tidur dan tiga kamar mandi, saat ini dihargai sekitar Rp 950 juta. Untuk rumah dengan ukuran luas bangunan 60 meter persegi dan memiliki tiga kamar tidur, dibanderol seharga Rp 550 juta.

Ihwal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia Properti Watch (IPW), Ali Tranghanda, mengatakan bahwa potensi Sentul sangat tinggi meskipun harus mengejar Tangerang. Harga tanah di kawasan ini sudah relatif tinggi. Sentul makin "naik daun".

"Secara posisi Sentul sangat bagus terhadap Jakarta. Selain itu, orang ke sini juga untuk mengejar view-nya. Ini keunggulan Sentul. Hanya, aksesnya masih harus mengejar Tangerang," ujar Ali kepada Kompas.com, Senin (12/1/2015).

Dilihat dari posisinya terhadap Jakarta, Sentul tidak terlalu jauh dibandingkan Bekasi. Sayangnya, akses kawasan ini masih terkonsentrasi di Jagorawi.

"Tapi, potensinya besar karena harga di Serpong sudah sangat tinggi, maka perkembangan akan mengarah ke Sentul. Untuk pasar landed house, masih Sentul sangat bagus ke depannya," kata Ali.

sumber: kompas.com (http://properti.kompas.com/read/2015/01/12/125540621/Tahun.Ini.Sentul.Makin.Naik.Daun.)

Korlantas Mabes Polri Klaim Jalur Puncak Dua Sangat Penting

TINJAU POSPAM - Perwakilan Korlantas Mabes Polri, Kasubid Infitrek Korlantas Mabes Polri AKBP Mansyur Slamet, sambangi Pos Pam I Segar Alam, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Jalan Raya Cianjur-Puncak, Senin (29/12/2014). 

CIANJUR, TRIBUN - Keberadaan Jalur Puncak dua, jalan yang menghubungkan Kabupaten Cianjur dengan Kabupaten Bogor via Batulawang-Sukamakmur-Citeureup, sudah sangat penting menyusul kerap terjadi kemacetan di Jalur Puncak.
Hal itu dikatakan Kasubid Infitrek Korlantas Mabes Polri AKBPMansyur Slamet, di Pos Pengamanan (Pospam) I Segar Alam, Jalan Raya Cianjur-Puncak, Desa Ciloto, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Senin (29/12/2014).
"Itu harus segera diberdayakan dan segera dioptimalkan karena di Jalur Puncak sini sudah stagnan," ujar Mansyur usai meninjau kesiapan Pospam Operasi Lilin Lodaya 2014 di Kabupaten Cianjur.
Selain stagnan, lanjut Mansyur, jumlah kendaraan terus bertambah setiap tahunnya sehingga Jalur Puncak yang hanya dua lajur itu diyakini tidak akan mampu menampung volume kendaraan. Apalagi kawasan puncak di wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Cianjur masih menjadi idola untuk menjadi tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara.
"Harapan kami semua infrastruktur jalan harus ok dan siap terutama untuk rekayasa lalu lintas. Kasihan juga masyarakat," ujar Mansyur. (cis)

(sumber: http://jabar.tribunnews.com/2014/12/29/korlantas-mabes-polri-klaim-jalur-puncak-dua-sangat-penting)

RTW Diubah Demi Pembangunan Jalur Puncak II

Foto- Tim teknis Pemkab Bogor meninjau Jalur Puncak II yang dibangun sejak Fabruari 2013 lalu kini mandek lantaran terkendala pembebasan lahan milik Perhutani. (iwan)

BOGOR (Pos Kota) – Demi memperlancar proses pembangunan Jalur Puncak II sepanjang 47 Km dari Sentul, Kecamatan Babakan Madang hingga Kecamatan Tanjungsari, perbatasan Kabupaten Cianjur, Pemkab Bogor mengubah Perda No 19 Tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW). Dalam perda baru tersbeut, pemkab akan mengubah lahan nonhutan menjadi hutan.
Kabid Sarana dan Prasaran Badan Perencaan Pembanguan Daerah (Bappeda) Kabuapten Bogor Suryanto mengatakan, terdapat penyesuaian-penyesuaian pola peruntukan dan pemanfaatan lahan.
“Dalam Perda lama terdapat salah interpretasi, yakni kawasan yang harusnya bukan hutan malah ditetapkan sebagai hutan. Dalam revisi perda baru, lahan yang seharusnya bukan hutan dikembalikan menjadi lahan nonhutan,” katanya.
Perubahan tata ruang Kabupaten Bogor merujuk pada Perda Provinsi Jawa Barat No. 22 Tahun 2010 tentang RTRW. “Kita hanya menyesuaikan, sebab Perda RTRW Kabupaten Bogor lahir duluan dibandigkan Perda Provinsi Jawa Barat. Ada perbedaan skala antara Bogor dan Jawa Barat. Dalam Perda tersebut luas lahan hutan menjai sempit,” tambahnya.
Revisi tata ruang juga disesuaikan dengan kebijakan nasional yang berubah. Ia mencontohkan, ada reposisi kawasan pertambangan, industri, dan pariwisata. “Selain itu, ada penambahan kawasan strategis, yang dibutuhkan seiring dengan pertumbuhan dan kebutuhan pembangunan di Kabupaten Bogor,” katanya,
Dia juga mengatakan, perubahan tata ruang ini tidak hanya menyangkut kawasan Puncak. Penyesuaian pemanfaatan dan peruntukan lahan dalam rancangan perda baru tetap mempertahankan fungsi lindung dari wilayah hutan, termasuk area konservasi di Puncak. “Hanya soal batas hutan dan wilayah hutan tidak seusai antara perda Kabupaten Bogor dengan Jawa Barat. Tapi kawasan lindung tetap dipertahankan,” katanya.
Menurutnya, lahan hutan yang akan dialihfungsikan menjadi nonhutan berada di sekitar Jalur Puncak II yang pembangunannya saat kini mandek, yakni meliputi Kecamatan Sukamakmur, Tanjungsari, dan Cariu. “Lahan hutan yang akan dipakai untuk Jalur Puncak II mencapai 50 hektar,” ujarnya.
Diharapkan dengan adanya perubahan RTRW dan kelak disetujui DPRD Kabupaten Bogor, target penyelesaian Jalur Puncak II tidak akan molor lagi. Semula Jalur Puncak II ditarget rampung 2014, tapi diundur lantaran terkendala dengan lahan milik Perhutani, bahkan kini pembangunanya mandek. “Jika RTRW ini disahkan target penyelesaian 2016 dapat tercapai,” ujaranya.
(iwan/sir)
Foto- Tim teknis Pemkab Bogor meninjau Jalur Puncak II yang dibangun sejak Fabruari 2013 lalu kini mandek lantaran terkendala pembebasan lahan milik Perhutani. (iwan)

sumber: poskotanews.com

 
Copyright © 2014 Jalur Puncak 2. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger